Petugas mendistribusikan soal ujian nasional untuk sekolah dasar di aula SMAN 8 Bandung, Jawa Barat, (4/5). TEMPO/Prima Mulia
TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengusulkan agar ujian nasional dibuat dengan sistem seperti Test of English as a Foreign Languange (TOEFL). Cara itu dinilai memberikan kesempatan bagi anak untuk memperbaiki kelemahan dalam pelajaran.
"Selama ini ujian nasional dilaksanakan tiga hari seolah menjadi penentu hidup mati siswa selama tiga tahun," ujar Ketua KPAI, Badriah Fayuni, di kantornya, Jakarta, Senin, 6 Mei 2013. Menurut dia, cara itu memaksakan siswa untuk memahami materi pelajaran yang belum tentu dikuasai.
Badriah menganggap, cara seperti tes TOEFL bisa dilakukan sesuai dengan perkembangan kemampuan siswa. Misalnya, ucap dia, seorang siswa yang sudah merasa mampu pada bab tertentu, maka bisa langsung mendaftar untuk ikut tes. "Setelah keluar hasilnya, dievaluasi kelemahannya pada bab apa saja," ucapnya.
Ia mengusulkan ujian tersebut dilakukan beberapa kali dalam setahun. Menurut KPAI, ujian yang dibuat bertahap juga bisa meringankan beban guru. "Kami pernah menerima keluhan dari sejumlah guru yang menangis karena terbebani dengan hasil ujian nasional. Kalau hasilnya jelek atau ada siswa yang tidak lulus, mereka khawatir sekolahnya tidak diminati lagi," ucap Badriah.
Badriah menjamin pelaksanaan ujian bertahap bisa mengurangi tingkat stres siswa. Siswa diharapkan bisa belajar sesuai dengan target. Jadi, persiapan benar-benar dilaksanakan untuk jangka panjang. Selain menuntut penghapusan ujian nasional, KPAI juga meminta peningkatan kualitas guru.
Sumber :http://www.tempo.co/read/news/2013/05/06/173478269/KPAI-Usulkan-Ujian-Nasional-Dibuat-Seperti-TOEFL
TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengusulkan agar ujian nasional dibuat dengan sistem seperti Test of English as a Foreign Languange (TOEFL). Cara itu dinilai memberikan kesempatan bagi anak untuk memperbaiki kelemahan dalam pelajaran.
"Selama ini ujian nasional dilaksanakan tiga hari seolah menjadi penentu hidup mati siswa selama tiga tahun," ujar Ketua KPAI, Badriah Fayuni, di kantornya, Jakarta, Senin, 6 Mei 2013. Menurut dia, cara itu memaksakan siswa untuk memahami materi pelajaran yang belum tentu dikuasai.
Badriah menganggap, cara seperti tes TOEFL bisa dilakukan sesuai dengan perkembangan kemampuan siswa. Misalnya, ucap dia, seorang siswa yang sudah merasa mampu pada bab tertentu, maka bisa langsung mendaftar untuk ikut tes. "Setelah keluar hasilnya, dievaluasi kelemahannya pada bab apa saja," ucapnya.
Ia mengusulkan ujian tersebut dilakukan beberapa kali dalam setahun. Menurut KPAI, ujian yang dibuat bertahap juga bisa meringankan beban guru. "Kami pernah menerima keluhan dari sejumlah guru yang menangis karena terbebani dengan hasil ujian nasional. Kalau hasilnya jelek atau ada siswa yang tidak lulus, mereka khawatir sekolahnya tidak diminati lagi," ucap Badriah.
Badriah menjamin pelaksanaan ujian bertahap bisa mengurangi tingkat stres siswa. Siswa diharapkan bisa belajar sesuai dengan target. Jadi, persiapan benar-benar dilaksanakan untuk jangka panjang. Selain menuntut penghapusan ujian nasional, KPAI juga meminta peningkatan kualitas guru.
Sumber :http://www.tempo.co/read/news/2013/05/06/173478269/KPAI-Usulkan-Ujian-Nasional-Dibuat-Seperti-TOEFL

Harusnya memang dibuat seperti itu,jadi anak anak bisa terpacu lagi dan sewaktu akan mengambil sertifikasi toefl sendiri sudah tau apa yang akan dilakukan.Bila perlu setiap ujian,test or semacamnya dapat menggunakan sistem Ujian Computer Assisted Test (CAT).
ReplyDeleteJadi tidak perlu menggunakan kertas lagi,melainkan sudah menggunakan paperless dan menggunakan bantuan computer.
Bener banget kk,hari gini katanya mau go green tapi masih pakai kertas,apa kata dunia
Deletesangat setuju kalo dibuat seperti test toefl,lanjutkan
ReplyDeletesetuju aja nih kk,kk seh enak sudah ga sma lagi,kita yang masih sma bisa kelabakan.
Deletesetuju dengan pendapat @boyna hal itu dimaksudkan agar jangan manja lagi anak anak sekarang.
ReplyDeletewah kk ini main setuju aja dengan diatas,sampaikan dong pendapatnya juga..siapa tau bisa lebih woww gitu.
DeleteYah jangan diterapin dulu deh sistem kayak gitu,banyak banget anak anak yang bakal dapat nilai kecil,,walaupun adik saya yang satu ini pintar tapi kasian yang lainnya,,
ReplyDeleteMakasih ayuk dah komen di blog aku,yah walaupun pinter masih was was juga loh
DeleteNice Dek. Komen Komen Diatas Juga Bener Dan cukup beralasan
ReplyDeleteSetuju banget. Selain mengurangi stress, siswa jd bs lbh fokus dlm belajar dan mempersiapkan ujian
ReplyDelete